Affichage des articles dont le libellé est Mojokerto. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est Mojokerto. Afficher tous les articles

vendredi 21 juillet 2017

Gunung Welirang 3156 mdpl via Tretes

Gunung Welirang adalah gunung berapi aktif berketinggian 3156 mdpl. Gunung ini terletak di perabatasan kota Pasuruan, kota Batu dan kabupaten Mojokerto. Welirang masuk dalam pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Gunung Welirang sendiri bersebelahan dengan Gunung Arjuno, Gunung Kembar I (K1), dan Gunung Kembar II (K2). Puncak Gunung Welirang terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Arjuno, sehingga kompleks ini sering disebut juga dengan Arjuno-Welirang (Wikipedia).
Peak of mount Welirang
Hari jumat (27/11/2015) saya melakukan pendakian ke gunung Welirang dengan 5 orang teman (Cak Ilung, Mas Amal, Mbak Umi, Sakdyah dan Bos Emil wkwkwk :v). Kami berangkat dari kota Malang sore hari sampai di pos pintu masuk pendakian sekitar jam 8 malam. Setelah sholat isya’ dan makan sebentar di warung dekat pos, kami bersiap melakukan pendakian malam itu juga.

Kami mengawali pendakian sekitar jam 9 malam. Susana pun masih bersemangat, kami bercandaan ini dan itu sepanjang perjalanan. Di kawasan awal ini, kami melewati gugusan pohon pring (bambu), hutan pinus dan ladang warga. Tidak jarang pula kami masih mendengar teriak nan tawa anak pramuka (kemungkinan) ramai berkegiatan camping di kala malam itu.

Setengah jam berjalan, tak terasa sudah sampai di pos pet bocor alias pos 1( 21.30 WIB). Kenapa pos tersebut dinamakan demikian. Sebab ada mata air yang mengalir di pos tersebut. Kalau tidak salah, mata air tersebut di lewatkan pipa/aralon besar atau bamboo yang bocor. Akhirnya pun oleh masyarakat sekitar dinamakan pet. Masih di pet bocor juga, ada rumah gubug disamping mata air. Gubug tersebut digunakan untuk berjualan ketika pagi menjelang.

Camp di Kokopan
Setelah duduk sebentar menikmati keheningan malam diiringi deringan jangkrik di pet bocor, kami melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya, yaitu kokopan (pos 2). Perjalanan dari pos ini sudah mulai menampakkan jalan yang terus menanjak. Maklum karena rombongan banyak cewek-cewek, kami menempuh perjalanan hampir 2 jam lebih dan sampai di pos 2 sekitar tengah malam (00.00 WIB). Di pos 2 ini kami mendirikan tenda (camp) dan istirahat. Menurut ketua rombongan (para cowok), lebih baik menyimpan energi dulu di pos ini. Sebab kami sudah lelah dari perjalanan dari Malang hingga pos Kokopan. Dan juga perjalanan masih jauh jika memaksakan diri lanjut jalan.

Besoknya, Sabtu (28/11/2015) subuh sekitar jam 5 kami sholat dan memasak sarapan pagi. Di kemiringan dataran dimana kami memasak dan tenda berdiri, tersaji pemandangan indah terhampar luas daratan. Tak jauh juga terlihat gunung Penanggungan dengah khas puncak runcing sempurnanya (mirip Semeru). Oh iya, nilai plusnya nih kalau kita mendaki jalur Tretes. Banyak mata air yang akan kita temui sepanjang pos. salah satunya di Kokopan. Banyak pendaki memilih tempat ini untuk mendirikan tenda karena dekat dengan sumber air melimpah.

Tim komplit
Selesai sarapan dan mengepak ulang tenda di carrier, kami siap lanjut jalan jam 8 pagi ke pondokan (pos 3). Vegetasi dari sudah mulai terlihat berbeda. Dari awalnya ladang terasering menjadi hutan khas ketinggian 2000 mdpl, yaitu hutan cemara. Perjalanan kali ini memakan waktu lama karena memang jaraknya sendiri lumayan jauh. Serta perlu diketahui, treknya menanjak tanpa ampun dan tanpa bonus. Tak ayal, rombongan cewek sering kepayahan. Apalagi saya keseringan istirahat dan selalu tertinggal di belakang dari rombongan (maafkeun). Sekitar 5 jam berjalan+istirahat di perjalanan, kami tiba di pos 3, Pondokan. Langsung saja saya ambruk, istirahat dan membenamkan mata sebentar. Sementara yang lain sibuk bergantian mencari air untuk wudlu, kemudian sholat dhuhur. Tak berapa lama setelah itu, saya dibangunkan untuk giliran sholat.

Pos 3, kenapa dinamakan pondokan? Karena di tempat ini banyak rumah gubug (pondok) yang konon dipakai warga Tretes untuk sejenak beristirahat. Istirahat untuk apa ya kira-kira? Iya istirahat setelah menambang belerang di sekitar puncak Welirang. Asal bloggers tau aja, banyak warga sekitar Tretes bermata pencaharian dengan menambang belerang di lereng gunung ini. Jadi bisa dibayangkan, apalah kita-kita para pendaki Welirang bila dibandingkan dengan penambang tersebut. Yang harus bolak balik tiap hari ke lereng demi mengais sebuah nasi untuk keluarga.

Pos 3 Pondokan
Tambahan info juga, kalau jalur Trestes ini bisa dilewati oleh mobil. Tentunya juga bukan mobil sembarangan lo. Mobil yang dipakai untuk menanjak jalan di jalur gunung Welirang ya sejenis mobil-mobil off road (beroda besar+keras). Mobil ini juga berfungsi sebagai pengangkut belerang yang sudah diambil penambang dari lereng. Kemudian dikumpulkan di pos 3 pondokan. Jadi mobil tersebut hanya bisa beroperasi sampai pos tersebut.

Pos 3 ini juga menjadi tempat persimpangan jalur pendakian antara Arjuno dan Welirang via Tretes. Jadi kalau bloggers ingin ke puncak Ogal Agil, dari pondokan harus ambil jalan ke kiri. Sedangkan kalau menambang belerang dan ke puncak Welirang ambil jalur lurus ke kanan.

Setelah dari pos 3, kami lanjut meluncur sekitar jam 2 siang. Dimana nantinya kami akan mendirikan tenda dan istirahat di simpangan K2 dan puncak Welirang. Vegetasi tumbuhan yang terlihat di ketinggian ini sudah mulai tampak. Yakni jalan berbatuan kapur dan tumbuhan pohon Chantigi yang hanya tumbuh diatas ketinggian 3000 mdpl. Tak terasa juga jalur perjalanan beriringan pohon Chantigi ini memakan waktu 3 jam dari pondokan. Akhirnya sampai di simpangan jam 5 sore.

Camp di Simapangan K2 dan puncak Welirang
Angin dan kabut menyelimuti sepanjang malam tempat kami mendirikan tenda. Situasi tersebut membuat kami agak sedikit takut jika tiba-tiba ada badai (sebenarnya juga takut ada makhluk tak kasat nyamperin wkwkwk :v) kemudian menghempaskan tenda kami. Kami pun memutuskan langsung istirahat tanpa basa basi bercanda setelah makan dan sholat. Lebih baik juga cepat-cepat istirahat menyimpan tenaga menuju puncak Welirang keesokan paginya.

Subuh menjelang di hari minggu (29/11/2015), kami bangun dan subuh an jam 5 pagi (aslinya mau ngejar sunrise di puncak tapi berat ninggalin mimpi wkwkwk). Tidak ada waktu untuk sarapan. Langsung  packing barang yang mau dibawa ke puncak. Baru kami bergegas lewat jalur ke puncak Welirang jam 6 pagi.


Wisata petik Chantigi :v
Sepanjang perjalanan pohon Chantigi mengiringi kami. Ngomong-ngomong tentang pohon unik ini, Chantigi ternyata bisa dimakan lo. Rasa buahnya mirip dengan buah Anggur. Hanya bedanya, tumbuhan endemik tersebut berbentuk mungil dan hanya ditemukan di ketinggian khusus. Coba saja bloggers kalau mendaki di wilayah tersebut. Kami malah mau petik banyak agar bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan. Haha

Banyak cabang jalan yang terlihat juga diantara simpang-simpag batuan dan ranting pohon. Bloggers harus hati-hati dalam memilih jalur. Karena cabang tersebut bisa jadi arah turun gunung. Jadi amati saja jalur yang selalu mengarah naik/menanjak.

Penampakan goa di kawasan puncak
Tak jauh juga dari jalur pendakian, ada goa batu yang menjadi pertanda jalur mengarah ke puncak Welirang. Benar saja, tak lama setelah itu puncak gunung ini terlihat dari kejauhan seperti kepala merunduk. Langsung kami bergegas dan mengelurkan pose terbaik diatas 3156 mdpl ini. Tak ada plakat spesial yang menunjuk gunung Welirang. Namun ada sejenis batu besi sebagai penanda tersebut adalah puncak tertinggi.

Kami sampai di puncak sekitar jam 7 pagi. Sekalian berlama-lama menikmati indahnya pemandangan dari pucuk, terlihat kawah menganga di sebelah barat. Sebelah utara nampak juga gunung Penanggungan, timur ada puncak K1+K2 dan tetangga sebelah puncak Arjuno, dan di selatan ada hamparan lahan sawah, kota Batu beserta gunung Buthak.

Titik puncak merunduk terlihat dari kejauhan
View kota Batu
(Kiri-kanan; Mas Amal, Sakdyah, Saya, Bos Emil, Mbak Umi dan Cak Ilung)
Selama 1 jam kami di Puncak, jam 08.00 pagi kami turun ke simpangan. Kami memasak sisa–sisa makanan/snack yang ada karena sudah hari ke 3 yang mengartikan logistic kami juga mulai menipis. Tidak tanggung-tanggung memang, dari puncak pada kelaparan. Jadi sedikit enteng bawa carrier turun dari pos simpangan. Setelah semua terpacking rapi, baik tenda dan peralatan masak, kami turun sekitar jam 10 pagi.

Untuk turun gunung, waktu tempuh bisa lebih cepat dibandingkan naik. Singkatnya, kami dari Simpangan ke Pondokan hanya memakan waktu 2 jam, yakni sampai jam 12 siang. Dari Pondokan ke Kokopan juga hanya 2 jam. Kemudian dari Kokopan jam 3 sore, lansung ke basecamp sampai jam 5 sore.
Istirahat bentar ya~
Sesampainya di basecamp, kami bertemu banyak sekali pendaki. Mereka kebanyakan memilih ke Arjuno. Berbeda dengan kami, dimana sepanjang perjalanan jarang bertemu pendaki ke puncak Welirang. Kami bertemu pendaki lain juga sih di puncak. Namun mereka naik dari via kota Batu (Cangar).

Setelah selesai mandi, bersih-bersih segala perlatan, kami siap kembali ke kota Malang tepat setelah Magrib. Sebelum berpisah (karena ada yang asli Pasuruan), kami bareng-bareng menikmati masakan yang tak bakal ditemukan diatas puncak gunung, bakso dan es degan. Alhamdulillah nikmat tiada tara.

Untuk tipsnya mendaki gunung Welirang via Tretes. Logistic dan fisik harus siap pastinya. Lapor ke basecamp sebelum mendaki dimana nanti harus membayar tiket masuk. Seingat saya waktu itu harga tiket 8000 per orang. Tapi kurang tau lagi sekarang berapa. Ini nih kalau beruntung, bloggers bisa nebeng mobil juga. biasanya ngangkut belerang dari pos Pondokan  lo. Kalau beruntung ketemu ya. hehe

Gunung ini termasuk gunung angker. Jadi hati-hati saja. Bloggers tidak diperkenankan aneh-aneh jika tak ingin sesuatu terjadi pada kalian (haha menakuti). Kalau memutuskan camp terakhir di dekat puncak seperti kami. Sebaiknya bloggers mendirikan tenda dibawah pohon agar angin yang bertiup tidak merobohkan tenda. Soalnya benar-benar kencang sekali angin di ketinggian 3000an mdpl dan cuaca sering sekali gampang berubah-ubah. Pokoknya stay safety aja.

Nah sekian pengalaman saya ketika mendaki gunung Welirang. Mungkin ada tambahan info lagi mengenai gunung ini. Sialahkan memberi komentar di bawah ya. Agar teman-teman bloggers yang lain tahu tentang info terupdatenya. Merciiii ;)


Gunung Penanggungan berselimut awan
Pondokan warga di pos 3
Cewek-cewek carrier :v
Setapak jalan dari pos 2 ke pos 3
Trek bebatuan ke puncak
Foto dulu kak :v
Jalan landai dekat puncak
Begitulah arah tanjakan bebatuan ke puncak
Selfie bareeengg... *cekrek!

dimanche 21 juin 2015

Hiking Mount Penanggungan 1653 Masl

Dengan menyambut datangnya bulan puasa Ramadhan 1436 H, saya melakukan aktifitas outdoor pada tanggal 06 Juni 2015 dengan mendaki gunung (Hmm, apasih ini hubungannya puasa sama aktifitas outdoor? Nggak korelasi banget :’v) di kawasan Mojokerto, yaitu gunung Penanggungan. Gunung ini (yang saya tahu) bisa didaki dari Trawas dan Jolotundo. Nah waktu itu, ane memilih jalur Trawas yang katanya jalur favorit para pendaki. Dan kalau ada blogger yang menyukai situs-situs peninggalan sejarah, di sepanjang perjalanan menuju puncak Penanggungan terdapat candi-candi peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Tapi blogger harus lewat jalur pendakian dari Jolotundo. Nanti bakal nemuin bermacam-macam candi seperti Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, dan Candi Selokelir.
Puncak Penanggungan 1653 Mdpl
Ane berangkat pukul 13.00 WIB dari Malang-Mojokerto kurang lebih selama 2 jam naik sepeda motor dengan komunitas  yang dinamakan DISTRICT (Ladies Trip Community) hahaha (buat perkumpulan dewe). Anggota yang ikut ada 5 orang cewek (ane, Emil, Dyah, Nadia, dan Mbak Shofi) dan semua naik bawa carrier (kurang keren apa cobak cewek-cewek ini wkwkwk :’v).
Jalur dari Malang ke Trawas, Mojokerto
Kami tiba di pos basecamp Pelawangan pukul 16.00 WIB. Setelah selesai sholat dan packing ulang semua isi carrier, kami mulai perjalanan pendakian pukul 17.00 WIB. Sekitar 15 menit ditengah perjalanan, ada plakat penunjuk arah puncak itu menunjuk belok kiri. Padahal kata temen saya (yang sudah pernah naik Penanggungan), jalan dari basecamp ke bukit bayangan lurus dan terus nanjak tanpa bonus. Awalnya kami agak ragu mengambil jalan persimpangan ini. Namun pas mau balik, kami bertemu satu kelompok cowok pendaki yang juga lewat situ. Jadi kami urung kembali ke jalan persimpangan tadi dan tetap melanjutkan jalan.
Basecamp Pelawangan
Nah tak disangka-sangka, salah satu dari kelompok pendaki tadi itu teman SMP dari salah satu teman DISTRICT (Dyah). Mungkin karena waktu semakin gelap dan tidak tega melihat para cewek-cewek ini naik sendirian, akhirnya kami join bareng jalan menuju puncak. Di sepanjang perjalanan, ragu-ragu menghantui kami untuk mengambil jalan arah mau ke puncak. Karena jalannya nggak biasanya seperti itu. Apalagi pas malam minggu, tentunya kan ada banyak pendaki lain yang harusnya kami temui. But there’s nothing people.
Lewat jalan pintas yang tidak umum (jalan sesat :'v)
Namun perjalanan tetap kami lanjutkan selama kami mengikuti jalan setapak jelas. (Untung saja sih, kami juga dibarengi sama mas-mas ini. Mereka juga membantu bergantian membawa carrier temen saya yang lumayan berat :D). Akhirnya kami ketemu persimpangan jalan normal menuju puncak dimana kami bertemu dengan rombongan ramai pendaki lain. Yaaah intinya, awalnya kami tersesat, tidak mengikuti jalur pendakian pada umumnya.

Pendakian dari basecamp ke puncak bayangan memakan waktu hampir 3 jam lebih. Tiba di puncak bayangan pukul 21.00 WIB kami langsung mencari lahan datar untuk mendirikan tenda. Sekitar pukul 22.00 WIB tenda sudah siap dipakai untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalan menuju puncak Pawitra. Dan tak lupa kami masak makanan sebelum istirahat untuk mengisi tenaga.
Persiapan packing barang untuk summit
Setelah istirahat kurang lebih 3 jam, kami siap-siap summit pukul 02.30 WIB. Jalur pendakian dari puncak bayangan ke puncak pawitra terjal, banyak kerikil dan kemiringan gunung hampir 65˚. Jadi ane mencari tumpuan batu kuat untuk merangkak naik. Tapi subhanallah sekali, pemandangan kota Mojokerto dari lereng puncak tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Banyak lampu-lampu berkilauan disertai bulan purnama yang bersinar pada malam itu (pas banget pertengahan bulan hijriah kami muncak).
Guess you can see the moon? It's little bit dark
Pukul 05.00 WIB kami tiba di puncak Pawitra. Bisa dibilang beratus-ratus umat membanjiri puncak pagi itu. Langsung kami mencari spot yang agak sepi untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) dari arah timur. Tidak lain dan tidak bukan langsung kami keluarkan kamera untuk mengabadikan momen indah kala itu. Sempat kabut menyelimuti sekitar pemandangan di Puncak. Tapi lama kelamaan kabut menghilang and the beautiful sun is rising.
Dari puncak Pawitra, kami bisa melihat laut di daerah Pasuruan, lampu-lampu kota (Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto) dari arah timur. Dan di arah selatan berdiri gagah dua puncak gunung setinggi 3000an mdpl, yaitu Arjuno dan Welirang.
Awaiting sunrise
Puas foto bersama dan makan cemilan di puncak, kami turun pukul 07.00 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB, kami tiba di tenda puncak bayangan. Masak untuk sarapan dan setelah itu packing semua barang dan tenda, siap-siap untuk turun ke basecamp. Pukul 10.30 WIB, we are ready to go down. Kami turun berlima tanpa teman-teman cowok tadi yang sudah turun dahulu (Iyaa, terima kasih sudah membantu kami sepanjang perjalanan menuju puncak ya, kakak-kakak :D). Selama kurang lebih 3 jam, kami tiba di basecamp pukul 13.00 WIB. Bisa dibilang agak lama, ya maklum juga di perjalanan turun banyak istirahat dan foto-foto :D.
A siluet morning of us :)
Tips untuk mendaki gunung Penanggungan ini, blogger yang pasti ikuti jalurnya (plakat penunjuk arah puncak). Kalau mungkin kejadian kayak saya, ngikutin petunjuk plakat tapi salah jalur. Blogger menunggu aja kelompok pendaki lain yang biasanya akan lewat jalur tersebut. Kalau misalnya tidak ada sama sekali maka sebaiknya blogger kembali ke jalur persimpangan dimana blogger ragu untuk berbelok. Tetap bersama dengan kelompok jangan sampai terpisah. Kalau ada teman kelompok capek, jangan sampai ditinggal. Ada kejadian ya. 3 hari sebelum kami naik, ada pendaki remaja hilang tersesat pada malam hari di gunung ini karena terpisah dari kelompoknya. Akhirnya siang hari diketemukan dengan keadaan lemas tanpa membawa logistik apapun di sekitar pos 3 pendakian. Ingat!! Meski gunung ini jalurnya sudah jelas dan tingginya hanya 1000an mdpl, jangan sekali-kali meremehkan. Mendirikan tenda sebaiknya di puncak bayangan agar beban naik puncak tidak berlebih. Lagipula keadaan di puncak Pawitra berangin kencang pakek banget.
Warna warni tenda di bukit bayangan Penanggungan

O iya sih, sedikit curahan yang dirasakan selama pendakian kami, cewek-cewek berlima. Selain kami bisa belajar mandiri untuk mengepak segala kebutuhan dan peralatan menggunung saat itu. Tak jarang banyak pendaki lain membantu kami dan sempat ketika turun, kami kehabisan air minum/dehidrasi ada kelompok pendaki lain yang menawarkan pundi-pundi simpanan air minum mereka untuk berbagi dengan kami. Disitulah adanya pelajaran positif yang bisa diambil, yaitu pentingnya kebersamaan dan berbagi antar sesama pendaki lain. Meskipun kami tidak saling mengenal.

Hehehe itu ya cerita kali ini tentang gunung Penanggungan. Bisa dibilang gunung ini enak banget dah dan cocok untuk didaki bagi para newbie/pemula. Tapi jangan dikira sampai meremehkan persiapan yang safety ya. Okeee, have a nice climb!!! ^-^
Dekat di mata, jauh di kaki -quote pendaki- :v
Trek kemiringan 65 derajat di lereng Pawitra
Saat sedang berkabut, bukan turun hujan apalagi turun salju :v
Together with friends who meet on our way to the peak
Pose gak jelas di puncak hahaha
"Salam DISTRICT" katanya ;)
Take a rest for a while
Lampu-lampu kota menyertai sambutan hadirnya pagi
Dengan background Arjuno-Welirang
Setelah packing tenda dan isi carrier di puncak bayangan
Yeaah, sommet du mont Penanggungan