vendredi 22 mars 2013

Qiro'atus Sab'ah


Di dalam melagukan Al-Qur’an atau taghonni dalam membaca Al-Qur’an, para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain sebagai berikut :
1.       Bayati
2.       Shoba
3.       Hijaz
4.       Nahawand
5.       Rost
6.       Jiharkah
7.       Sikah


Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam – macam lagu dan cabangnya antara lain :
     1. Bayati
a)       Qoror : rendah
b)      Nawa : sedang
c)       Jawab : naik
d)      Jawabul jawab : naik tertinggi
e)      Nuzul ( turun )
f)       shu’ud ( naik )

     2. Shoba
a)      Dasar
b)      Ajami/Ala Ajam
c)       Quflah Bustanjar/Qofiyah

    3.  Hijaz
a)      Dasar
b)      Kard
c)       Kurd
d)      Kard-Kurd
e)      Variasi

    4.  Nahawand
a)      Dasar
b)      Jawab
c)       Nakriz
d)      Usysyaq

    5. Rost
a)      Dasar
b)      Nawa/Rost ala Nawa

    6. Jiharkah
a)      Nawa
b)      Jawab

    7.   Sikah
a)      Dasar
b)      Iraqi
c)       Turki
d)      Ramal (fales)

TAWASIH NAHEM DALAM TILAWATIL QUR’AN
Untuk teori tawasih nahem qiroah Tilawatil Qur’an silahkan download gratis di sini ! dan untuk contoh praktek Qiroah / bacaan surat Al Qur’an silahkan download gratis di sini ! atau klik download Semoga bermanfaat.

Bayati :
- nurun nabiyi “alal awalimi asfaro ( Qoror )
- fa abana asbaba r rosyadi wa ad haro ( Nawa )
- wa syari’atul islam ( Qoror )
- wa syari-atul islam roqo ruwa ‘uha ( Nawa )
- roqo ruwa’uha wal kufru asbaha jaesuhu mutaqohqiro ( Nawa )
- lamma ata khoirul anami bi dinihi ( Jawab )
- wanhala ma ‘aqodal ghuwatu minal ‘uro ( Jawab )
- hamu jami’a ( Jawab )
- hamu jami’am bin nabiyi wa dinihi ( Jawab )
- wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
- wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
- wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
- wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
- wa binurihi wal kullu shoha muhalilahu wa mukabiro ( nuzul )

Maqam Shoba
SHOBA

- aro thoiron ala ghusni yunadi
- aro thoiron ala ghusni yunadi
- anta busro limajruhil fuadi (shoba ma’al ajam )
- badat laila fa adkha ‘a shifuha ( ala ajam )
- ruku’an sujudan fi kulli wadi
- ruku’an sujudan fi kulli wadi
cabang
quflah bastanjar
- ruku’an sujudan fi kulli wadi

HIJAZ

- Ya wardatan wasthor riyadi muthillatan tujri bi wajhi dzati hudhrin ’athiro
- Ana fil kharobil awati ghoiro majhulil makani (kard)
- Ainama ma dzal munadi fi wujin naqo’i yaroni ( kard kurd )
- Innani laitun ’abusun laisa li fil kholqi tsani (kurd)

NAHAWAND

- ila kam dzadz dzalali wa dzat tajali imma yakfika ya husna tatsani
- wa hisabi ma’ matsani li fi’ali syahidani ( usyaq )
- wa idza mal ardo shorot wardatam mislad dihani ( Nakriz )
- wad dima’u tajri alaiha launuha ahmaru qoni ( jawab )

RAST

- ya sarhatan bi jiwaril maa’i nadirotan saqoqi dam’ i idza lam yufi syaqiqi
- asrokol nurul fil awali lamma basharot ha bi ahmadil amba-a ( Rast ala nawa )
- bil yatimil umi wal basaril maruha ilaihil uluma wal asma-a ( Rast ala nawa )
cabang Rast dzan qiron
- quwata llahi in tawalat dhoifan nuibat fi mirosihil aqwiya

Maqam Jiharka
JIHARKA

- Allahu zada Muhammadan ta’dhima
- Wa habahu fadlam min ladunhu ’adhima
- Wahtashuhu fil mursalina kalima
- Wahtashuhu fil mursalina kalima
- Da roqotim bil mu’minina rohima

SIKA

- maulaya katabta rohmatan nasi ’alaik
- fadlan wa karom
- fal marji’u wal ma-alu wal kullu ilaika ’arbu wa ’ajam
- farham dzuni wa waqdhoti baina yadaika in zalla qodam
BAYATI
- fal hamdu minni wak tadi baina yadaika in zalla qodam

samedi 16 mars 2013

Temukan kebahagiaanmu


Puisi yang diinspirasikan dari puisi Cherche ta vie... .


Fajar di ufuk timur telah datang
Burung kenari bernyanyi riang
Gadis kecil yang penuh angan
Terbangun untuk arah penghidupan
Sejenak ia termenung akan suatu keadilan
Keadilan yang tak ia dapatkan
Tuntutan ilmu suatu lembaga
Yang memungkinkan,
Tanpa 1 huruf pun dia buta
Langkah yang lunglai nan gontai
Menerawang luasnya langit angkasa
Mata yang penuh harapan dan asa
Akan terpaku pada kecilnya daratan
Membuatnya semakin duduk berjeratan
Kemudian
ia hanya bisa berkata pada kehidupan
Angin… bawalah harapan ini
Menuju kaki-kaki yang siap melangkah
Carilah bahagia
Biarpun sampai ke ujung nyawa
Karena itulah obat segala nestapa

vendredi 15 mars 2013

Cherche ta vie - René-Guy Cadou


Bagi sebagian orang (sastrawan dan sastrawati ^^v), puisi merupakan bentuk karya sastra yang singkat untuk menuangkan apa yang ada di pikiran, apa yang terjadi pada suasana dan perasaan hati. Yah, memang benar kata-kata itu. Curahan hati dan pikiran yang muncul yang berbentuk sederatan bait kata itu, tentulah mempunyai berbagai interpretasi makna menurut sudut pandang masing-masing. Dan dari tiap sudut pandang individu itu pastilah berbeda.
Sebagai contoh kali ini ialah puisi dari René-Guy Cadou yang berjudul Cherche ta vie. Saya sebagai penulis akan mencoba menginterpretasikan dan mengkaitkan puisi tersebut ke dalam konteks kehidupan nyata.
a.    Interpretasi puisi
Une lampe naquit sous la mer
Un oiseau chanta
Alors dans un village reculé
Une petite fille se mit à écrire
Pour elle seule
Le plus beau poème
Elle n'avait pas appris l'orthographe 

Dalam baris puisi tersebut, tersirat suasana yang cerah di pagi hari. Burung-burung berkicau menyambut pagi yang indah. Dan ada seorang anak perempuan kecil yang mulai tumbuh di tempat tinggalnya yang jauh dari kota yang tak terjamah akan ilmu yang melimpah. Dan dia tak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Tetapi ia tetap mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.
Elle dessinait dans le sable
Des locomotives
Et des wagons pleins de soleil
Dessinait disini mengungkapkan bahwa anak ini berangan-angan / memplanning masa depan hidupnya kelak. Penuh dengan khayalan fantasi yang menakjubkan. Des locomotives et des wagons merupakan alat transportasi yang menggambarkan perjalanan akan hidupnya ini. Menemukan hal-hal baru dan tempat yang baru. Pasti sangatlah menyenangkan dan  penuh akan kecerahan masa depan.
Elle affrontait les arbres gauchement
Avec des majuscules enlacées et des cœurs
Elle ne disait rien de l'amour
Pour ne pas mentir
Akan tetapi, apa yang bisa ia lakukan untuk menggapai mimpi-mimpinya tersebut ? sedangkan jauh dari mimpi dan angan-angan itu. Dia terjerat akan keadaan nasib yang tak mendukungnya. Dia hanya bisa merangkul pohon dimana ia bias berdiri kokoh menghadapi kekangan hidupnya ini. Untuk menutupi kebohongan akan rindunya kasih sayang yang sudah tak mengenal lagi akan hal tersebut.
Et quand le soir descendait en elle
Par ses joues
Elle appelait son chien doucement
Et disait
« Et maintenant cherche ta vie ».
Et à la fin de cette poème, si gadis kecil ini merintih akan kehidupan berat yang ia jalani. Satu demi satu harapan hidupnya hilang. Takdirnya yang melelahkan ini mengisyaratkan pada orang lain untuk tetap mancari dan menemukan jalan hidup yang di inginkan.
Son chien disini diibaratkan seperti teman dekat (seseorang) dari si gadis kecil tersebut. Mungkin karena kesepiannya tersebut, ia hanya bersahabat erat dengan anjing peliharaannya itu.
b.    Konteks terhadap kehidupan nyata

Dari konteks isi puisi diatas, penulis akan memberikan kaitan puisi ini terhadap kehidupan nyata. Banyak sekali di sekeliling kita, anak-anak kecil yang terpinggirkan dari masyarakat dan tidak mendapat jaminan kehidupan yang layak. Seperti sekolah, masa kecil untuk bermain dengan teman sejawat dll. Sebagai contoh saja anak jalanan.
Seorang anak kecil berjalan dengan langkah gontai di lampu merah. Simpang siur tiap mobil yang datang dari arah jalan yang berhenti di lampu merahi ia dekati. Tangannya menengadah minta belas kasihan. Ada yang memberikan uang, ada yang tidak. Raut wajah anak itu datar. Tak ada kesan sumringah saat diberikan atau mesem jika tak diberikan. Panas yang terik pun tak menghentikannya demi sesuap nasi untuk makan sehari-hari.
Disamping  keadaan yang seperti itu, pasti lah mereka mempunyai cita-cita dan angan-angan yang sangat tinggi seprti anak-anak lain. Bisa mengenyam pendidikan formal. Dan yang tidak kalah penting ialah kasih saying orang tua.
 Anak-anak jalanan ini memang perlu mendapat perhatian. Apalagi jika usia mereka usia sekolah. Kalau ini dibiarkan, mereka tidak akan pernah mengenyam dunia pendidikan. Untuk solusi seprti ini, mungkin pemerintah bisa lebih intensif memberikan program sekolah gratis untuk mereka. Setidaknya memberikan pelatihan ketrampilan untuk membangun keahlian mereka agar hidupnya tidak tergantung akan uang receh di persimpangan lampu merah lagi.

lundi 7 janvier 2013

Demain, dès l'aube...


Par Victor Hugo (1802-1885)
Demain, dès l'aube, à l'heure où blanchit la campagne,
Je partirai. Vois-tu, je sais que tu m'attends.
J'irai par la forêt, j'irai par la montagne.
Je ne puis demeurer loin de toi plus longtemps.

Je marcherai les yeux fixés sur mes pensées,
Sans rien voir au dehors, sans entendre aucun bruit,
Seul, inconnu, le dos courbé, les mains croisées,
Triste, et le jour pour moi sera comme la nuit.

Je ne regarderai ni l'or du soir qui tombe,
Ni les voiles au loin descendant vers Harfleur,
Et quand j'arriverai, je mettrai sur ta tombe

Un bouquet de houx vert et de bruyère en fleur.

Berdasarkan karya puisi Victor Hugo diatas, unsur pembentuk puisi tersebut masih sangat terikat dengan peraturan lama. Terlihat jelas puisi ini terdiri dari 3 bait. Dari setiap bait tersebut terdapat 4 larik / baris puisi. Dan tiap baris itu berakhiran rima abab. Serta dari tiap baris itu terdiri dari 12 suku kata.
Dari segi makna / isi yang terkandung dalam puisi. Perasaan sang pengarang  ini menggambarkan kesedihan karena kehilangan seseorang dicintainya karena orang tersebut sudah tiada lagi di dunia. Buktinya terdapat pada baris puisi yang menyebutkan “ et quand j’arriverai, je metterai sur ta tombe Un bouquet de houx vert et de bruyère en fleur.“ yang dalam bahasa Indonesia berarti “ dan mana kala aku tiba, kan ku letakkan di atas makam mu Serangkum rumpun hijau dan serangkum rumpun bunga Hafleur. Victor Hugo membuat puisi ini, setelah putrinya Leopoldine meninggal di usia sangat muda. Karena sangat merasa bersedih kala itu, kehilangan putri yang sangat ia sayangi dan ia cintai.
Penggunaan bahasa dan pemilihan kata/diksinya banyak menggunakan majas – majas. Seperti contoh dalam baris puisi “J'irai par la forêt, j'irai par la montagne.“  Pada larik puisi tersebut menggunakan majas *metonimia. la forêt dan la montagne mengindikasikan tempat yang jauh. Sehingga kalimat tersebut berarti bahwa betapa jauh jarak yang memisahkan Victor Hugo dan makam putrinya.

Menurut saya, puisi ini sangat berarti dalam sekali. Puisi ini diciptakan untuk mengenang orang yang sangat dikasihi dan dicintai. Pasti menyakitkan sekali ketika kehilangan seseorang untuk selamanya. Akan tetapi pada hakekatnya, seseorang yang sudah tidak ada di dunia fana ini jangan terus ditangisi. Mungkin jadinya, di alam sana mereka tidak akan tenang karena kita terus bersedih karenanya. Jadi lebih baik, kita berdoa terus kepada Allah untuk ketenangan rohnya di alam sana dan harus mengikhlaskan kepergiannya.