Affichage des articles dont le libellé est Sastra. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est Sastra. Afficher tous les articles

samedi 16 mars 2013

Temukan kebahagiaanmu


Puisi yang diinspirasikan dari puisi Cherche ta vie... .


Fajar di ufuk timur telah datang
Burung kenari bernyanyi riang
Gadis kecil yang penuh angan
Terbangun untuk arah penghidupan
Sejenak ia termenung akan suatu keadilan
Keadilan yang tak ia dapatkan
Tuntutan ilmu suatu lembaga
Yang memungkinkan,
Tanpa 1 huruf pun dia buta
Langkah yang lunglai nan gontai
Menerawang luasnya langit angkasa
Mata yang penuh harapan dan asa
Akan terpaku pada kecilnya daratan
Membuatnya semakin duduk berjeratan
Kemudian
ia hanya bisa berkata pada kehidupan
Angin… bawalah harapan ini
Menuju kaki-kaki yang siap melangkah
Carilah bahagia
Biarpun sampai ke ujung nyawa
Karena itulah obat segala nestapa

vendredi 15 mars 2013

Cherche ta vie - René-Guy Cadou


Bagi sebagian orang (sastrawan dan sastrawati ^^v), puisi merupakan bentuk karya sastra yang singkat untuk menuangkan apa yang ada di pikiran, apa yang terjadi pada suasana dan perasaan hati. Yah, memang benar kata-kata itu. Curahan hati dan pikiran yang muncul yang berbentuk sederatan bait kata itu, tentulah mempunyai berbagai interpretasi makna menurut sudut pandang masing-masing. Dan dari tiap sudut pandang individu itu pastilah berbeda.
Sebagai contoh kali ini ialah puisi dari René-Guy Cadou yang berjudul Cherche ta vie. Saya sebagai penulis akan mencoba menginterpretasikan dan mengkaitkan puisi tersebut ke dalam konteks kehidupan nyata.
a.    Interpretasi puisi
Une lampe naquit sous la mer
Un oiseau chanta
Alors dans un village reculé
Une petite fille se mit à écrire
Pour elle seule
Le plus beau poème
Elle n'avait pas appris l'orthographe 

Dalam baris puisi tersebut, tersirat suasana yang cerah di pagi hari. Burung-burung berkicau menyambut pagi yang indah. Dan ada seorang anak perempuan kecil yang mulai tumbuh di tempat tinggalnya yang jauh dari kota yang tak terjamah akan ilmu yang melimpah. Dan dia tak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Tetapi ia tetap mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.
Elle dessinait dans le sable
Des locomotives
Et des wagons pleins de soleil
Dessinait disini mengungkapkan bahwa anak ini berangan-angan / memplanning masa depan hidupnya kelak. Penuh dengan khayalan fantasi yang menakjubkan. Des locomotives et des wagons merupakan alat transportasi yang menggambarkan perjalanan akan hidupnya ini. Menemukan hal-hal baru dan tempat yang baru. Pasti sangatlah menyenangkan dan  penuh akan kecerahan masa depan.
Elle affrontait les arbres gauchement
Avec des majuscules enlacées et des cœurs
Elle ne disait rien de l'amour
Pour ne pas mentir
Akan tetapi, apa yang bisa ia lakukan untuk menggapai mimpi-mimpinya tersebut ? sedangkan jauh dari mimpi dan angan-angan itu. Dia terjerat akan keadaan nasib yang tak mendukungnya. Dia hanya bisa merangkul pohon dimana ia bias berdiri kokoh menghadapi kekangan hidupnya ini. Untuk menutupi kebohongan akan rindunya kasih sayang yang sudah tak mengenal lagi akan hal tersebut.
Et quand le soir descendait en elle
Par ses joues
Elle appelait son chien doucement
Et disait
« Et maintenant cherche ta vie ».
Et à la fin de cette poème, si gadis kecil ini merintih akan kehidupan berat yang ia jalani. Satu demi satu harapan hidupnya hilang. Takdirnya yang melelahkan ini mengisyaratkan pada orang lain untuk tetap mancari dan menemukan jalan hidup yang di inginkan.
Son chien disini diibaratkan seperti teman dekat (seseorang) dari si gadis kecil tersebut. Mungkin karena kesepiannya tersebut, ia hanya bersahabat erat dengan anjing peliharaannya itu.
b.    Konteks terhadap kehidupan nyata

Dari konteks isi puisi diatas, penulis akan memberikan kaitan puisi ini terhadap kehidupan nyata. Banyak sekali di sekeliling kita, anak-anak kecil yang terpinggirkan dari masyarakat dan tidak mendapat jaminan kehidupan yang layak. Seperti sekolah, masa kecil untuk bermain dengan teman sejawat dll. Sebagai contoh saja anak jalanan.
Seorang anak kecil berjalan dengan langkah gontai di lampu merah. Simpang siur tiap mobil yang datang dari arah jalan yang berhenti di lampu merahi ia dekati. Tangannya menengadah minta belas kasihan. Ada yang memberikan uang, ada yang tidak. Raut wajah anak itu datar. Tak ada kesan sumringah saat diberikan atau mesem jika tak diberikan. Panas yang terik pun tak menghentikannya demi sesuap nasi untuk makan sehari-hari.
Disamping  keadaan yang seperti itu, pasti lah mereka mempunyai cita-cita dan angan-angan yang sangat tinggi seprti anak-anak lain. Bisa mengenyam pendidikan formal. Dan yang tidak kalah penting ialah kasih saying orang tua.
 Anak-anak jalanan ini memang perlu mendapat perhatian. Apalagi jika usia mereka usia sekolah. Kalau ini dibiarkan, mereka tidak akan pernah mengenyam dunia pendidikan. Untuk solusi seprti ini, mungkin pemerintah bisa lebih intensif memberikan program sekolah gratis untuk mereka. Setidaknya memberikan pelatihan ketrampilan untuk membangun keahlian mereka agar hidupnya tidak tergantung akan uang receh di persimpangan lampu merah lagi.

mercredi 13 juin 2012

Analisis Puisi "Rumah by Toto Sudarto Bachtiar"






 
Alasan mengapa puisi ini dipilih karena puisi ini menggambarkan kehidupan realita layaknya mahasiswa. Mahasiswa merantau ke negri orang. Jauh dari orang tua yang mengharuskan mereka mengatur sendiri jalan hidupnya dan bersikap mandiri. Mahasiswa identik dengan kehidupan anak kos dan hidup bersama – sama dengan teman satu kosnya. Suatu saat teman satu kos sedang pulang, pastinya penyakit rumah pun datang ketika kesepian di kos. Mereka akan rindu dengan kampung halaman dan orang tua di rumah. Inilah mungkin yang dirasakan Toto Sudarto Bachtiar ketika menulis puisi RUMAH ini.
Suasana yang muncul ketika membaca puisi ini adalah jiwa yang kesepian ketika sendiri tiada teman menyertai. Kadang ketika kita sudah terbiasa bersama dan berkumpul dengan teman. Lalu teman kita pergi pulang kampung atau entah kemana, rasanyaa itu ada sesuatu yang hilang dari hidup kita. Seperti yang berbunyi pada bait pertama puisi ini ;
Kulihat dari cahaya bulan di pekarangan
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tidak ada suara, tiada pula bayangan
Kecuali sahabatku, semuanya pergi
Suasana puisi ini dimunculkan melalui pemilihan kata (diksi) yang mendeskripsikan bagaimana kegelisahan, kesenduan dan kesepiannya si penulis. Seperti dicontohkan pada sepenggal bait pertama baris kedua Serambiku kelam dan berudara sepi.
Dari puisi ini dapat kita petik pelajaran bahwasannya manusia itu tidak dapat hidup sendiri, bahkan egois mementingkan diri sendiri tanpa mengetahui keadaan sekitarnya itu bagaimana. Karena manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain.

lundi 14 mai 2012

Kaguya-hime (かぐや姫)



Pada artikel ini, saya akan membahas cerita rakyat atau legenda dari negri Sakura yaitu Jepang dengan kisah Putri Kaguya. Kaguya-hime (かぐや姫) atau dalam bahasa indonesia diartikan Putri Kaguya, merupakan cerita rakyat  Jepang yang  tertua. Kisah seorang anak perempuan yang ditemukan kakek pengambil bambu dari dalam batang bambu yang bercahaya. Dan pada akhirnya terungkap bahwa Putri Kaguya ini berasal dari Bulan. Kedatangannya di Bumi sebenarnya untuk menjalani hukuman.
Dalam cerita ini terdapat berbagai tokoh yang muncul, berikut tokoh-tokoh dalam cerita Kaguya-hime:
1.      Putri Kaguya
Seorang putri dari Bulan yang dikirim ke Bumi untuk menjalani hukuman. Ketika ditemukan seorang Kakek Pengambil Bambu dalam batang bambu, ukuran tubuhnya sangat mungil, tingginya kira-kira sekitar 9 cm tapi manis dan lucu. Dalam 3 bulan, anak perempuan ini tumbuh cepat. Dia mempunyai paras sangat cantik, begitu cantiknya sehingga perlu diberi nama yang sangat istimewa. Orang-orang menyebutnya Putri Kaguya (Nayotake no kaguya hime). Banyak Pria dari berbagai kalangan, mulai dari bangsawan hingga rakyat biasa, semuanya ingin menikahi Putri Kaguya. Mereka datang berturut-turut ke rumah Putri Kaguya untuk meminangnya, namun terus menerus ditolak oleh Putri Kaguya.
Tokoh ini merupakan tokoh utama. Berwatak protagonis. Dia digambarkan dengan paras yang sangat cantik. Sangat dicintai oleh orang-orang sekitarnya. Tokoh ini sangat risau ketika semua orang yang ia sayangi di Bumi harus ia tinggalkan karena harus kembali lagi ke Bulan.
2.       Mikado (Kaisar Jepang)
Seorang kaisar jepang yang jatuh cinta kepada putri Kaguya. Setelah mendengar berita kegagalan dan kecantikan Putri Kaguya, kaisar Mikado ingin melamar juga. Akan tetapi, sama nasibnya dengan 5 pelamar sebelumnya, Putri Kaguya tetap menolak lamarannya. Walaupun demikian, setelahnya, Putri Kaguya tetap berkomunikasi dengan sang Kaisar lewat puisi-puisi dari waktu ke waktu.
Tokoh ini juga menjadi tokoh utama. Posisinya protagonis. Berwatak tegas dan berwibawa. Meski Kaguya menolak lamarannya, Mikado tidak marah. Mereka tetap menjaga hubungan persahabatan dengan saling bertukar puisi. Bisa dibilang, tokoh ini menjadi teman/sahabat akrab ketika Kaguya di Bumi, disamping Mikado juga mencintainya.
3.      Kakek Pengambil Bambu (Taketori-no Okina)
Seorang kakek tua yang tiap harinya mengambil dan memotong bambu di hutan. Suatu ketika ia menemukan batang bambu yang bersinar. Saat membelah batang bambu yang bersinar itu, ia menemukan seorang bayi perempuan sebesar ibu jarinya yaitu Putri Kaguya. Sejak itu, setiap kakek pergi ke gunung untuk menebang bambu, di dalam batang bambu tersebut pasti selalu ditemukan emas. Kakek dan istrinya menjadi kaya, kehidupan merekapun menjadi makmur berkat kehadiran Kaguya.
Posisi tokoh ini juga protagonis. Kakek lah yang sedari kaguya kecil hingga tumbuh dewasa merawatnya. Kakek sudah menganggap Kaguya seperti anak sendiri sebagaimana orang tua yang sayang kepada darah dagingnya sendiri.
4.      5 Pangeran Pelamar
Berita kecantikan Kaguya-hime menyebar dan membuat 5 orang pangeran datang menemui Kakek untuk meminang Kaguya-hime. Putri Kaguya memikirkan berbagai cara untuk menolak lamaran mereka dengan menyuruh membawa barang-barang yang mustahil adanya.  Dia meminta ke-5 pangeran pelamar untuk mencarikan benda-benda pusaka. Pangeran pertama diminta untuk mencarikan mangkuk suci milik Buddha, pangeran kedua diminta mencari sebuah tanaman bunga yang terbuat dari emas, pangeran ketiga diminta untuk mencarikan jubah legenda dari China, pangeran keempat diminta untuk mengambil permata berwarna dari leher seekor naga, dan pangeran terakhir mencari sebuah pusaka burung walet.
Pangeran pertama, kedua dan ketiga menyadari bahwa permintaan Kaguya-hime adalah sesuatu yang mustahil, dan mereka kembali dengan membawa barang yang mirip, namun bukan yang benar-benar diminta Kaguya-hime. Pangeran keempat menyerah setelah dihadang badai, sedangkan pangeran kelima harus gugur saat berusaha. Maka kelima pangeran itupun gagal mempersunting Kaguya-hime.
Posisi tokoh-tokoh  ini hanyalah sebagai figuran atau pelengkap saja. Karakter mereka muncul saat konflik mulai muncul dalam cerita ini. Sebagai pelengkap, tokoh-tokoh ini hanya muncul pada suatu bagian alur tertentu dan hanya sebagai “bumbu” agar cerita lebih terlihat luas dan menarik.

NB : di kisah ini tidak muncul tokoh antagonis karena ceritanya berpusat/intinya pada masalah internal Kaguya sendiri yang di buang ke Bumi untuk menjalankan hukuman.
Unsur latar dalam cerita ini antara lain saya jelaskan berdasarkan latar tempat dan latar waktu.
a.      Latar Tempat.
Latar tempat dari cerita ini berada di Jepang. Kisah ini berkaitan erat hubungannya dengan Gunung Fujiyama. Ketika Kaisar sangat sedih kehilangan orang yang dicintai sekaligus sahabatnya, ia kemudian meminta para pengawalnya untuk membawa surat balasannya ke gunung yang dipercaya paling dekat jaraknya dengan langit, yaitu gunung di Propinsi Suruga (perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi). Pengawal itu diperintahkan untuk membakar surat Kaisar setibanya disana agar pesannya sampai pada Putri Kaguya. Mereka juga diperintahkan untuk membakar 'elixir or immortality' disana, sebab Kaisar tidak menghendaki hidup abadi tanpa melihat atau bersama Putri Kaguya. Gunung tempat surat dan 'exilir of immortality' ini dibakar kemudian disebut 'Fushi no Yama', [Fushi atau Fuji berarti kekal / Immortal], kemudian menjadi nama gunung tersebut, Gunung Fuji [Mount Fuji].
b.     Latar Waktu
Cerita diperkirakan berasal dari awal zaman Heian. Di dalam Man’yōshū jilid ke-16 terdapat chōka (prosa panjang) berjudul Taketori no Okina (Kakek Pengambil Bambu) yang mengisahkan seorang wanita dari kahyangan (tennyo).
Alur dari cerita ini maju. Dimulai dari  Putri Kaguya yang ditemukan dari sebuah batang bambu yang bercahaya oleh seorang Kakek Pengambil Bambu. Konflik Kaguya ketika beranjak tumbuh dewasa. Kemasyhuran kecantikan parasnya menyebar. Banyak pelamar yang ingin menikahinya, serta Kaisar Jepang pun ingin juga mempersuntingnya. Namun semua ditolak oleh Kaguya. Dan pada akhirnya dia harus mengungkapkan bahwa ia bukanlah penduduk dari Bumi. Melainkan penduduk ibukota Bulan yang dikirim ke Bumi untuk menjalani hukuman. Dan ia harus kembali ke Bulan Ketika orang bulan datang menjemputnya pada musim gugur bulan 8 tanggal 15.