dimanche 21 juin 2015

Hiking Mount Penanggungan 1653 Masl

Dengan menyambut datangnya bulan puasa Ramadhan 1436 H, saya melakukan aktifitas outdoor pada tanggal 06 Juni 2015 dengan mendaki gunung (Hmm, apasih ini hubungannya puasa sama aktifitas outdoor? Nggak korelasi banget :’v) di kawasan Mojokerto, yaitu gunung Penanggungan. Gunung ini (yang saya tahu) bisa didaki dari Trawas dan Jolotundo. Nah waktu itu, ane memilih jalur Trawas yang katanya jalur favorit para pendaki. Dan kalau ada blogger yang menyukai situs-situs peninggalan sejarah, di sepanjang perjalanan menuju puncak Penanggungan terdapat candi-candi peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Tapi blogger harus lewat jalur pendakian dari Jolotundo. Nanti bakal nemuin bermacam-macam candi seperti Candi Kendalisodo, Candi Merak, Candi Yudha, Candi Pandawa, dan Candi Selokelir.
Puncak Penanggungan 1653 Mdpl
Ane berangkat pukul 13.00 WIB dari Malang-Mojokerto kurang lebih selama 2 jam naik sepeda motor dengan komunitas  yang dinamakan DISTRICT (Ladies Trip Community) hahaha (buat perkumpulan dewe). Anggota yang ikut ada 5 orang cewek (ane, Emil, Dyah, Nadia, dan Mbak Shofi) dan semua naik bawa carrier (kurang keren apa cobak cewek-cewek ini wkwkwk :’v).
Jalur dari Malang ke Trawas, Mojokerto
Kami tiba di pos basecamp Pelawangan pukul 16.00 WIB. Setelah selesai sholat dan packing ulang semua isi carrier, kami mulai perjalanan pendakian pukul 17.00 WIB. Sekitar 15 menit ditengah perjalanan, ada plakat penunjuk arah puncak itu menunjuk belok kiri. Padahal kata temen saya (yang sudah pernah naik Penanggungan), jalan dari basecamp ke bukit bayangan lurus dan terus nanjak tanpa bonus. Awalnya kami agak ragu mengambil jalan persimpangan ini. Namun pas mau balik, kami bertemu satu kelompok cowok pendaki yang juga lewat situ. Jadi kami urung kembali ke jalan persimpangan tadi dan tetap melanjutkan jalan.
Basecamp Pelawangan
Nah tak disangka-sangka, salah satu dari kelompok pendaki tadi itu teman SMP dari salah satu teman DISTRICT (Dyah). Mungkin karena waktu semakin gelap dan tidak tega melihat para cewek-cewek ini naik sendirian, akhirnya kami join bareng jalan menuju puncak. Di sepanjang perjalanan, ragu-ragu menghantui kami untuk mengambil jalan arah mau ke puncak. Karena jalannya nggak biasanya seperti itu. Apalagi pas malam minggu, tentunya kan ada banyak pendaki lain yang harusnya kami temui. But there’s nothing people.
Lewat jalan pintas yang tidak umum (jalan sesat :'v)
Namun perjalanan tetap kami lanjutkan selama kami mengikuti jalan setapak jelas. (Untung saja sih, kami juga dibarengi sama mas-mas ini. Mereka juga membantu bergantian membawa carrier temen saya yang lumayan berat :D). Akhirnya kami ketemu persimpangan jalan normal menuju puncak dimana kami bertemu dengan rombongan ramai pendaki lain. Yaaah intinya, awalnya kami tersesat, tidak mengikuti jalur pendakian pada umumnya.

Pendakian dari basecamp ke puncak bayangan memakan waktu hampir 3 jam lebih. Tiba di puncak bayangan pukul 21.00 WIB kami langsung mencari lahan datar untuk mendirikan tenda. Sekitar pukul 22.00 WIB tenda sudah siap dipakai untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalan menuju puncak Pawitra. Dan tak lupa kami masak makanan sebelum istirahat untuk mengisi tenaga.
Persiapan packing barang untuk summit
Setelah istirahat kurang lebih 3 jam, kami siap-siap summit pukul 02.30 WIB. Jalur pendakian dari puncak bayangan ke puncak pawitra terjal, banyak kerikil dan kemiringan gunung hampir 65˚. Jadi ane mencari tumpuan batu kuat untuk merangkak naik. Tapi subhanallah sekali, pemandangan kota Mojokerto dari lereng puncak tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Banyak lampu-lampu berkilauan disertai bulan purnama yang bersinar pada malam itu (pas banget pertengahan bulan hijriah kami muncak).
Guess you can see the moon? It's little bit dark
Pukul 05.00 WIB kami tiba di puncak Pawitra. Bisa dibilang beratus-ratus umat membanjiri puncak pagi itu. Langsung kami mencari spot yang agak sepi untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) dari arah timur. Tidak lain dan tidak bukan langsung kami keluarkan kamera untuk mengabadikan momen indah kala itu. Sempat kabut menyelimuti sekitar pemandangan di Puncak. Tapi lama kelamaan kabut menghilang and the beautiful sun is rising.
Dari puncak Pawitra, kami bisa melihat laut di daerah Pasuruan, lampu-lampu kota (Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto) dari arah timur. Dan di arah selatan berdiri gagah dua puncak gunung setinggi 3000an mdpl, yaitu Arjuno dan Welirang.
Awaiting sunrise
Puas foto bersama dan makan cemilan di puncak, kami turun pukul 07.00 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB, kami tiba di tenda puncak bayangan. Masak untuk sarapan dan setelah itu packing semua barang dan tenda, siap-siap untuk turun ke basecamp. Pukul 10.30 WIB, we are ready to go down. Kami turun berlima tanpa teman-teman cowok tadi yang sudah turun dahulu (Iyaa, terima kasih sudah membantu kami sepanjang perjalanan menuju puncak ya, kakak-kakak :D). Selama kurang lebih 3 jam, kami tiba di basecamp pukul 13.00 WIB. Bisa dibilang agak lama, ya maklum juga di perjalanan turun banyak istirahat dan foto-foto :D.
A siluet morning of us :)
Tips untuk mendaki gunung Penanggungan ini, blogger yang pasti ikuti jalurnya (plakat penunjuk arah puncak). Kalau mungkin kejadian kayak saya, ngikutin petunjuk plakat tapi salah jalur. Blogger menunggu aja kelompok pendaki lain yang biasanya akan lewat jalur tersebut. Kalau misalnya tidak ada sama sekali maka sebaiknya blogger kembali ke jalur persimpangan dimana blogger ragu untuk berbelok. Tetap bersama dengan kelompok jangan sampai terpisah. Kalau ada teman kelompok capek, jangan sampai ditinggal. Ada kejadian ya. 3 hari sebelum kami naik, ada pendaki remaja hilang tersesat pada malam hari di gunung ini karena terpisah dari kelompoknya. Akhirnya siang hari diketemukan dengan keadaan lemas tanpa membawa logistik apapun di sekitar pos 3 pendakian. Ingat!! Meski gunung ini jalurnya sudah jelas dan tingginya hanya 1000an mdpl, jangan sekali-kali meremehkan. Mendirikan tenda sebaiknya di puncak bayangan agar beban naik puncak tidak berlebih. Lagipula keadaan di puncak Pawitra berangin kencang pakek banget.
Warna warni tenda di bukit bayangan Penanggungan

O iya sih, sedikit curahan yang dirasakan selama pendakian kami, cewek-cewek berlima. Selain kami bisa belajar mandiri untuk mengepak segala kebutuhan dan peralatan menggunung saat itu. Tak jarang banyak pendaki lain membantu kami dan sempat ketika turun, kami kehabisan air minum/dehidrasi ada kelompok pendaki lain yang menawarkan pundi-pundi simpanan air minum mereka untuk berbagi dengan kami. Disitulah adanya pelajaran positif yang bisa diambil, yaitu pentingnya kebersamaan dan berbagi antar sesama pendaki lain. Meskipun kami tidak saling mengenal.

Hehehe itu ya cerita kali ini tentang gunung Penanggungan. Bisa dibilang gunung ini enak banget dah dan cocok untuk didaki bagi para newbie/pemula. Tapi jangan dikira sampai meremehkan persiapan yang safety ya. Okeee, have a nice climb!!! ^-^
Dekat di mata, jauh di kaki -quote pendaki- :v
Trek kemiringan 65 derajat di lereng Pawitra
Saat sedang berkabut, bukan turun hujan apalagi turun salju :v
Together with friends who meet on our way to the peak
Pose gak jelas di puncak hahaha
"Salam DISTRICT" katanya ;)
Take a rest for a while
Lampu-lampu kota menyertai sambutan hadirnya pagi
Dengan background Arjuno-Welirang
Setelah packing tenda dan isi carrier di puncak bayangan
Yeaah, sommet du mont Penanggungan


jeudi 7 mai 2015

Pendakian Gunung Wilis 2552 Mdpl

Pada tanggal 02 Mei 2015 hari sabtu, ane menghabiskan liburan akhir pekan dengan mendaki salah satu gunung di Jawa Timur, yaitu Gunung Wilis. Gunung ini terletak diantara beberapa kabupaten, yaitu Madiun, Nganjuk, Kediri, Ponorogo, Trenggalek dan Tulung Agung. Untuk memulai pendakian bisa dari salah satu kabupaten tersebut dengan puncak yang berbeda. Sebenarnya Wilis mempunyai 3 puncak. Puncak pertama adalah Puncak Limas (2300mdpl) jalur pendakian dari desa Bajulan, Nganjuk atau Goliman, Kediri. Puncak kedua adalah Puncak Liman (2535mdpl) jalur pendakian via Sedudo, Nganjuk atau Madiun atau Ponorogo. Dan yang terakhir adalah Puncak Wilis (2552mdpl) jalur pendakian via Besuki, Kediri atau Sendang, Tulung Agung atau Trenggalek. Kalau ane kemarin pilih Puncak Wilis yang jalur Sendang, Tulung Agung.
Puncak Wilis 2552 Mdpl
Saya dan 5 teman (Emil, Agus, Anas, Hadi dan Bang Yusuf) berangkat dari Malang pukul 14.00 WIB naik sepeda motor lewat selatan (Malang-> Blitar-> Tulung Agung). Di sepanjang perjalanan, kami diguyur hujan sangat lebat. Tidak menampik ya, bulan Mei masih menampakan cuaca kurang bersahabatnya, mendung dan masih musim hujan. Tapi hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk pergi ke atas puncak Wilis. Setelah 6 jam menghabiskan waktu di jalan (ditambah waktu berhenti untuk sholat dan makan di pinggir jalan atau warung), kami sampai di desa Penampihan Kec. Sendang Kab. Tulung Agung. Di desa inilah titik awal (basecamp) ke Puncak Wilis.
Jalur selatan Malang-Tulungagung
Untuk menitipkan sepeda motor, kami harus mengendarai sepeda sampai pucuk jalan desa Penampihan dimana nantinya akan ada sebuah rumah berdiri di tengah-tengah luasnya ladang sayur. Ada pasangan suami istri yang mendiami rumah tersebut. Bapak-Ibu tersebut (lupa tanya nama hehe) sangat ramah. Bahkan ketika kami datang pas malam-malam hari dengan keadaan baju basah kuyup, beliau mempersilahkan kami masuk dan membuatkan kami teh hangat untuk menetralisir  hawa dingin angin malam. Istirahat sejenak untuk sholat dan ganti baju. Ditengah-tengah istirahat sempat juga kami berbincang-bincang dengan beliau. Tentang anak-anaknya, kehidupan bertaninya dan rumah sederhananya. Asal tau aja ya, kabel listrik belum sampai di rumah beliau. Jadi mereka menggunakan sumber energi AKI dan gendset untuk kebutuhan listriknya.
Ini Bapak dan Ibu yang kami titipin sepeda motor :)
Itu tadi sekedar spoiler saja. Oke lanjut ke perjalanan mendaki. Setelah semua persiapan fisik dan logistik rampung, kami langsung berangkat pukul 21.00 WIB. Untuk laporan perijinan pendakian bisa ke Bapak-Ibu itu. Awal pendakian harus melewati ladang sayur milik warga. Kami tidak start dari candi penampihan karena treknya terlalu jauh jika dari tempat kami parkir (Intinya kami motong jalur info pada umumnya, nah jalurnya ini bisa tanya langsung ke Bapak-Ibu tadi).
Peta jalur puncak Wilis
Hati-hati aja kalau malam hari di jalur ladang. Kami sempat tersesat 45 menit di ladang untuk menemukan jalur ke arah pintu rimba. Pintu rimba merupakan titik masuk ke hutan Wilis. Dari sini nanti akan bertemu 2 jalur dimana jalur ke kiri lewat air terjun dan jalur ke kanan lewat hutan-hutan. Kami memilih jalur kanan yang arah hutan. Dari kedua jalur ini sebenarnya sama, nanti akan bertemu di pos persimpangan Watu Godheg.
Pos Watu Godeg
Jalan ke Watu Godheg agak sedikit turun ke lembah. Di pos ini bisa mendirikan tenda sekitar kapasitas 4 orang. Dari Watu Godheg, waktu normal ke puncak sekitar 3 jam. Dalam perjalanan tersebut akan melewati Hutan Cemara I (sekitar 1,5 jam), Hutan Lumut (1 jam), dan Hutan Cemara II (30 menit). Setelah itu langsung puncak Wilis akan tampak.
Agak sedikit kecewa sih ya, pas kami di puncak pukul 10.30 WIB kabut masih menutupi alam sekitar Wilis. Jadinya kami tidak dapat melihat kota Kediri maupun Tulung Agung dari atas.
Makan siang ;)
Kami di puncak kurang lebih 1 jam. Disini tanah datarnya luas, jadi cocok untuk mendirikan tenda. Nah, aktifitas yang jelas wajibnya sampai puncak, tidak lain ya pencitraan foto-foto (hahaha begitulah adanya). Puas pose sana sini, kami makan nasi, snack dan nyeduh kopi.

Setelah itu kami turun tepat pukul 11.30 WIB. Untuk turun gunung tidak memerlukan waktu lama seperti pas muncak. Dari puncak kembali ke Watu Godheg hanya 1 jam. Kemudian dari Watu Godheg ke Pintu Rimba sekitar 1jam 45 menit. Jadi total estimasi waktu turun sekitar 3 jam. Ini berlaku turun tanpa berhenti di tengah jalan.
Tepat pukul 11.30 turun dari puncak
Akhirnya kami sampai di ladang dan terlihat sekali betapa o’on nya kami. Beda sekali ngetrek waktu malam dan siang hari. Kalau siang kami bisa lihat arah awal waktu malam tersesat nggak nemu jalan. Yaaa, merasa lucu aja. Sadar ternyata malam muter-muter tempat yang sama dan jalurnya waktu siang bisa terlihat jelas arahnya.
Keluar Pintu Rimba

Sekedar tips untuk naik gunung ini. Perlu diperhatikan bahwa gunung ini merupakan tipe gunung basah dengan vegetasi tumbuhan yang lebat dan lembab. Jikalau naik seperti ane waktu musim hujan dan malam hari. Persiapan yang perlu dibawa jelas jas hujan, senter atau head lamp, dan jaket. Hati-hati jalan licin habis hujan. Untuk jalur antara pintu rimba dan Watu Godheg perlu waspada. Pacet banyak sekali berkeliaran. Jadi saya sarankan jangan istirahat sambil duduk di sepanjang jalan (takutnya pacetnya masuk badan) dan gunakan sepatu atau sandal gunung disertai kaos kaki untuk meminimalisir pacet yang nempel di kaki. Untuk mendirikan tenda, bisa di Pos Watu Godheg, sebidang tanah datar setelah waktu Godheg (tidak ada sign untuk tempat ini) dan kawasan Puncak. Sepanjang jalur wilis ke puncak, hanya tiga tempat ini yang tanahnya datar dan cukup untuk mendirikan tenda. Yang tidak kalah penting sih ya safety logistic juga sih dan fisik. Gunung ini masih sepi dan jalurnya belum sepenuhnya jelas. Cari terus petunjuk arah Puncak dan jangan mengambil jalan ke bawah, biasanya arah ke tebing.
Plakat penunjuk arah puncak
Tempat Parkir (pukul 21.00) --> Ladang Sayur (45 menit) --> Pintu Rimba dan Hutan (4 jam) --> Pos Watu Godeg (pukul 02.00) --> Mendirikan tenda dan makan (pukul 02.00-04.00) --> Istirahat (pukul 04.00-07.00) --> Hutan Cemara I (1,5 jam) --> Hutan Lumut (1 jam) --> Hutan Cemara II (1 jam) --> Puncak (pukul 10.30) --> Turun Watu Godeg (1 jam/pukul 12.30) --> Packing tenda dan carrier (1 jam/pukul 13.30) --> Turun ke Pintu Rimba (pukul 14.50) --> Ladang sayur (pukul 15.00) --> Tempat parkir (pukul 15.15)

Nah itu tadi sekedar sharing pengalaman naik gunung Wilis dari Penampihan. Hati-hati tersesat ya bloggers karena kawasan hutannya masih alami dan jarang pendakian. Jadi treknya kurang begitu jelas. Tapi tenang saja, selama bloggers mengikuti petunjuk arah yang di pasang oleh salah satu komunitas pendaki daerah tersebut, bloggers akan berada di jalur yang aman. Selamat mencoba pendakian Gunung Wilis. ^_^
Yes, here we are on the peak :)
Setelah packing tenda dan carrier, siap turun!
Trek sebelum Watu Godeg
Camp di Watu Godeg
Lahan datar setelah Watu Godeg
Lahan datar di puncak
Alhamdulillah sampai Puncak Wilis :)

 

samedi 21 mars 2015

L'activité Bali part 2

Setelah beberapa waktu lalu, nulis hari pertama di Bali dari nyari losmen, sewa sepeda motor dan rendez-vous avec mes amis. Saatnya bercerita pada hari kedua di Bali, ane janjian sama salah satu temen kampus ane yang asli Bali buat tak jadiin guide tour keliling kota Denpasar dan sekitarnya. Hehehe (lumayan biar nggak tersesat kayak hari pertama di Bali). Kami janji bertemu pukul 10.00 WITA. Jadi sebelum itu, paginya aku sama adekku jogging dulu ke pantai Kuta. Nggeber sepedah motor dan langsung parkir di pantai. Nah di sekitar pantai Kuta itu ada banyak hotel, club, cafe dan mall seperti Hard-Rock Café, Beachwalk dll.
Beachwalk
Depan Hard Rock Café

Ane langsung menuju pantai dan suasana masih sepi (bulenya pada masih tidur kali ya pada begadang :/ ). Aku kagak tau sih apa yang istimewa dari pantai Kuta ini ya. Dari hamparan pemandangan laut dan sepanjang pantai, aku fokusnya ke pesawat take-off di ujung selatan pantai ini. Hahaha :B Bandara Internasional Ngurah Rai sedikit terlihat jelas dari pantai ini.
Yang tampak begitu menonjol dari pantai ini, surfing kali ya. Ombak disini lumayan gede lah dibuat selancar. Mungkin ini salah satu yang menarik para wisatawan manca datang kesini, disamping budayanya orang Bali.

Sementara adekku jogging di sepanjang pinggir pantai, aku jalan-jalan kecil sambil menikmati udara pagi disana. Ketika aku duduk santai menghadap birunya pantai Kuta, ada bule Prancis nyamperin (gak biasanya mereka menyapa duluan wkwkwk) gara-gara aku pakek jaket khas jurusanku. Couple ini langsung nanya ke ane « Vous êtes étudiante ici ? » dan tak jawab « Oui, je suis étudiante de la section française à Java-Est. Mais je suis une locale” (nulis apa’an sih penulis ini) <<<pikirnya para blogger wkwkwk :D. Kayaknya sih bulenya bingung. Mungkin dalam hatinya « Java-Est itu dimana yak ? » hahaha. Ya jadi singkat cerita gitu deh pokoknya.
Jaket kebanggaan ;)

Matahari sudah beranjak tinggi. Puas jalan-jalan di Kuta, saatnya aku nyamperin temenku yang tinggal di Bali, Devin, dia jadi guide ku seharian itu. Sebelumnya kami janjian ketemuan pukul 10.00 WITA di rumah Devin. Sampek sana disambut sama kedua orang tuanya Devin. Mereka begitu ramah pada kita, kayak udah nganggep saudara sendiri. Sebelum berangkat jalan-jalan, aku disuguhin makan pagi. Ya tanpa basa basi sih, aku langsung ambil piring di dapur. Hahha. Yang disuguhin pokoknya makanan khas Bali deh, yang tak inget cuma Srobotan (sejenis urap-urap gitu kalau di Jawa). Setelah kenyang, kami langsung geber sepedah motor.

Destinasi awal itu, museum  Bali. Letaknya persis samping alun-alun Denpasar. Karcis masuk waktu itu Rp 2000 untuk pelajar/mahasiswa. Isi museumnya sih ya mainstream lah ya tentang seluk beluk budaya Bali. Kira-kira 1 jam di museum, kami langsung melanjutkan bagian timur pulau Bali, pantai Sanur. Siang terik banget dan sepi kala itu ketika kami datang. Katanya sih, kalau di Sanur paling bagus pemandangannya waktu sunrise. Nggak ada yang spesial sih, yang ada bentangan laut biru dan hotel Sanur yang menjulang tinggi (sempet jadi gedung tertinggi di Bali).

Habis dari Sanur, destinasi kami selanjutnya adalah Nusa Dua. Kami lewat jalur tol Bali Mandara. Jalan ini merupakan jalan yang dibangun membelah laut dengan menghubungkan Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan daerah Sanur. cukup murah untuk lewat jalur tol ini. Hanya mengeluarkan Rp 4000 untuk sepedah motor, blogger bisa nggeber kencang di jembatan tol ini. Tapi hati-hati angin kencang dari sisi jalan ya.
Mamasuki Jalan tol Bali Mandara
Hampir kira-kira 1 jam mengendarai motor lewat Mandara, kami sampai di kawasan Bali Tourism Development Corporation (BTDC), Peninsula Nusa Dua, Bali. Tata letak taman di kawasan ini sangat eksotis. Kawasan ini dipenuhi pepohonan hijau dan ada bundaran air mancur yang cantik (sayang banget nggak tak abadikan T-T). Yang istimewa di Nusa Dua itu Water Blow. Apa itu ? (coba googling :v). Air laut yang nabrak di karang-karang pinggir pantai memang keren. Menciptakan cipatran air yang menjulang tinggi. Cipratan airnya pun membuat hujan embun di jalan setapak. Ada juga patung Krisna dan Arjuna yang berdiri kokoh menghadap barat. Ketika sunset, patung tersebut seperti menantang pengharapan kepada sang surya. Cool!
The Garden of Hope
Puas keliling Nusa Dua, kami lanjut kejar sunset di Uluwatu. Tapi sebelum itu, mampir ke masjid di Nusa Dua. Tempat ibadah di Bali itu sangat jarang ditemui, kecuali pura yang sangat mendominasi. Yang mengagumkan ya di Bali, tempat ibadah dari berbagai agama yang diakui di Indonesia saling berdampingan berjejar dalam satu kawasan.
Masjid Agung Ibnu Batutah di Nusa Dua
Selesai sholat, langsung dah cus, karena waktu udah menunjukkan pukul 18.00 WITA. Tandanya sang surya akan segera beristirahat. Mengejar matahari yang hampir meredup, rasanya hayati lelah. Hufft, sampai di Uluwatu pun udah nggak dapat sunset (syediiih T-T). Tapi setidaknya kami bisa melihat Tari Kecak di akhir-akhir.

Kecak Dance
Pukul 20.00 WITA kami kembali ke daerah Kuta. Maksud hati mau kuliner di Jimbaran tapi nggak kesampean huhu. Untuk hari terkahir di Bali, kami cuma bisa jalan-jalan di sekitar selatan Bali. Hyaaah next time kali ya ke Bali lagi, mungkin bisa hiking juga ke gunung Agung, exploring pantai Lovina dll. Iya sudah untuk cerita di Bali-nya. Semoga tetap menjadi bagian dari Indonesia di mata mancanegara. It should be~
Mannequin Kultur Bali
Pantai Sanur
Water Blow Nusa Dua
Hotel Inna Grand Bali
Background Patung Kresna dan Arjuna
Pantai Kuta

jeudi 19 mars 2015

Hiking gunung Lemongan

Lama rasanya aku tidak pergi menikmati segarnya udara alam. Dan pada hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015, ane dapat kesempatan mendaki gunung (yang menurutku nggak mainstream ya) di Lumajang, yaitu gunung Lemongan. Tingginya sih nggak seberapa ya kalau dibandingkan gunung-gunung yang diminati kayak Mahameru, Arjuno dll. Kira-kira gunung ini berdiri tegak setinggi 1671 mdpl.
Kelebihan 5 m, it should be 1671 mdpl
Ane berangkat dengan 5 orang teman (Aku, Emil, Anas, Fajri dan Laili) dari Malang dengan sepedah motor lewat jalur utara (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang). Lama perjalanan dari Malang ke daerah Klakah, Lumajang sekitar 3 jam. Dari Pasar Klakah nanti belok kiri ke kawasan Ranu Klakah, terus tanya saja ke warga ‘mau ke padepokannya Mbah Citro’. Dari situ blogger akan diarahkan dahulu ke tempat penitipan sepedah motor 24 jam di rumah warga dan harus berjalan kaki sekitar 30 menit menuju titik awal perjalanan, yaitu rumah Mbah Citro.
Rute dari Malang ke Gunung Lemongan via utara
Pas kesana itu, ane nyampek magrib dan hujan lebat banget. Akhirnya bertamu dulu di rumah penitipan warga itu sekalian sholat magrib dan isya’ disana. Sekitar 1 jam disana, kami harus melanjutkan perjalanan ke basecamp Mbah Citro pukul 20.00 WIB. Ane sampai di rumah mbah Citro sekitar pukul 20.22 WIB. Istirahat sebentar di emperan rumah karena cuaca masih hujan, kata orang ‘juru kunci’ disitu belum diperbolehkan naik. Jadinya ane dan 4 temanku harus nunggu hujan reda dulu. Akhirnya sekitar pukul 21.00 – 23.00 WIB killing time dengan tidur sebentar.

Pukul 23.10 WIB kami berangkat hiking. Karena belum tau seluk beluk gunungnya seperti apa, akhirnya kami bebarengan 3 cowok, 1 asli Lumajang namanya Wilson, 2 lainnya asal Jember namanya Fadhil dan Bagus. Sebenarnya ane juga ada 2 teman yang mau nanjak bareng, bang Johan dan bang Andri. Tapi masih nyangkut di rumah warga karena hujan. Akhirnya kami duluan dan ketemu di puncak saja.

Kami harus melewati beberapa pos. Pos 1 itu seperti tempat seorang rumah warga kokh berdiri ditengah-tengah sepinya persawahan sekitar. Pos 2 itu bernama Watu Gedhe. Dinamakan sperti itu memang ada batu besar berdiri seperti papan. Kemudian pos pohon besar dan pos 3. Nantinya di pos 3 ada 2 jalur ke puncak, jalur lama dan jalur baru. Katanya sih mending lewat jalur baru, soalnya jalannya gampang dibanding jalur lama (mais non T-T).

Sepanjang perjalanan 3 anak ini ngoceh kesana kemari hahaha. Biarlah, cek suasana nggak garing dan sepi. Karena aku yang rentan banget tertinggal jalannya, akhirnya aku jalan di depan. Di awal-awal pendakian, setelah Watu Gedhe, sempat rasanya aku kewelahan dan ngerasa nggak kuat untuk naik. Tapi teman-teman menyemangati dan aku juga bertekad harus sampai puncak (sudah jauh-jauh datang ke gunung ini, masak nggak sampai puncak “gumamku dalam hati sih hihihi”).

Medan yang kami lewati sangatlah terjal, nanjak dengan kemiringan lumayan, jalan berbatu, sempit, berpasir, pokoknya lengkap deh tantangannya. Hahha. Karena aku jalannya lambat, akhirnya teman-temanku tak suruh naik duluan. Selama 7 jam pendakian (termasuk lama banget), sampailah ane di puncak pukul 05.45 WIB dan nggak sempet dapet sunrise (sad deh huhuhu). Tapi pas de problème sih, pemandangan dari puncak gunung waktu pagi hari sangatlah indah dan cantik. Di bagian barat, ane bisa lihat gunung Mahameru dan Bromo berdiri mencakar langit serta Ranu-ranu sekitar gunung Lemongan, seperti ranu Klakah dan Ranu Pakis. Di bagian timur, bisa lihat gunung Argopuro dan kawah tidur gunung Lemongan yang konon katanya masih aktif.
Puncak Lemongan 1671 Mdpl

Setelah puas, pencitraan foto sana sini (hihihi), kami turun pukul 07.00 WIB. Do you know that, jangan dipikir waktu turun itu gampang ya. I realised that it’s also difficult as hiking. Kenapa seperti itu? Karena ketika blogger turun gunung, kaki harus kuat menahan dan menyangga berat tubuh. Berkali-kali ane ndlosor (red;jatuh), gara-gara nggak kuat menopang pada lutut dan kaki. Akhirnya berkorbanlah jempol kuku hingga lebam. Turun pun memakan waktu lama total sekitar 9 jam karena kami nge-camp sebentar sekitar 1,5 jam di Watu Gedhe. Akhirnya pukul 16.00 WIB tiba di basecamp rumah mbah Citro. Langsung turun ngambil sepedah motor dan siap-siap balik ke Malang.
Pos Watu Gedhe dgn background G. Lemongan

Sedikit tips aja ya naik gunung ini. Kalau bawa carrier tenda, mending ditinggal di pos Watu Gedhe dan tenda langsung buat disitu. Soalnya kalau naik, itu akan sangat-sangat membebani berat bawaan ketika muncak. Bahkan di puncak, sedikit sekali lahan datar buat nge-camp. Untuk naik, siapkan benar-benar sendal atau sepatu khusus hiking ya. Pengalaman ane yang o’on banget yak, pengalaman naik gunung pakek sendal crocs berkali-kali dan kali ini benar-benar fatal, korban jempol kuku T-T. huhuhu. O iya, untuk para cewek nih, kalau misal berhalangan atau datang bulan dilarang keras naik ke puncak ya. Kalau tetap bersikeras, ya tanggung sendiri akibatnya. Konon sih, dari cerita 3 anak seperjalan itu, pernah bawa temen cewek yang datang bulan nggak ngomong2, akhirnya tanpa sebab musabab cewek tersebut nangis pas sampek puncak. Ketika ditanya, katanya sepanjang perjalanan diketoki (red;dihantui) arwah orang-orang bule/Belanda.


Oke deh itu sedikit berbagi pengalaman naik gunung Lemongan. Jangan ngeremehin ketinggian ya, meski pendek tapi cukup nantang lah gunung ini. Selamat menikmati mendaki ^_^
Aku pernah disini ;)
Together with friends on the top of mountain

Kiri-kanan; Bagus, Fadhil dan Wilson. Guide kita pas mendaki